Welcome to my blog

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Friday, February 1, 2013

ADIK HASAN AL BANNA MENINGGAL DUNIA

Adik Hasan Al Banna, Gamal Al Banna, dikenal sebagai pemikir kontroversial di Mesir  meninggal dunia pada Kamis (31/1).

Sarjana Islam terkemuka yang juga penulis itu meninggal pada Selasa pagi (29/1) setelah dirawat di rumah sakit Kairo sejak awal Januari 2013. Menurut Ahram Online, Gamal menderita pneumonia selama beberapa minggu.

Gamal Al Banna menulis lebih dari 50 buku yang berhubungan tidak hanya dengan Islam, tetapi juga dengan politik, ekonomi, dan gerakan serikat buruh.

Adik dari Hasan Al Banna, pendiri Ikhwanul Muslimin, tersebut dikenal karena pandangan kontroversial agama yang dikritik oleh ulama Islam terkemuka. Misalnya, Al Banna percaya jilbab bukan merupakan kewajiban Muslim dan bahwa perempuan Muslim dapat menikah dengan pria Kristen atau Yahudi.

Walaupun beradik kakak, Gamal dan Hasan memiliki pemikiran yang jauh berbeda, banyak kebijakan kakaknya yang di tolak Gamal. Penulis liberal itu pernah mengatakan,  “saya adalah kebalikan yang nyata dari kakak saya, Hasan Al Banna.”

Banna menulis dan menerjemahkan lebih dari 150 buku, termasuk buku pertamanya, "Tiga Rintangan Menuju Kemuliaan " (1945), dan "Demokrasi Baru" (1946).

Banna kuliah selama 30 tahun sampai 1993 di Universitas Pekerja di Kairo dan lembaga khusus lainnya. Ia juga seorang ahli yang berkonsultasi di Organisasi Buruh Arab.

El-Banna adalah seorang penasihat senior bagi pandangannya tentang Islam.

Pada 2011, ia mengkritik Salafi fundamentalis, yang mengambil langsung pendekatan ketat literal kepada Islam. Dalam artikel di Ahram Online, penulis yang lahir pada 1920 itu mengatakan cara Salafi berpikir ketinggalan jaman dan menyimpang dari Islam.

Pada tahun yang sama, Gamal Al Banna mengatakan dalam sebuah wawancara  dengan Egypt Independent, Mesir tidak dapat didasarkan pada Islam karena perbedaan pandangan sipil dan agama. Dia mengambil contoh Ikhwanul Muslimin yang menyatakan negara sipil tidak harus didasarkan pada agama.

Pada 2004, Gamal Al Banna dikutip Fox News pada reformasi hukum Islam tentang perceraian. Pada saat itu, ia mengatakan hak yang sama untuk bercerai harus menjadi ketentuan standar dalam kontrak perkawinan dan mendukung kriminalisasi segala bentuk kekerasan dalam rumah tangga.

Dalam artikelnya pada 2004, El-Banna mengatakan, "Keadilan dan kejujuran adalah sumber utama dari Syariah (hukum Islam)."


BEASISWA UNTUK HAPUS ISLAMPHOBIA DI AMERIKA


Sebuah asosiasi mahasiswa muslim di Amerika telah mengambil inisiatif yang unik dengan memberikan beasiswa kepada siswa dalam rangka menghilangkan kesalahpahaman tentang Islam dan untuk menyebarkan ajaran Islam yang sesungguhnya.

Islam adalah agama kedua terbanyak pemeluknya di seluruh dunia dengan 1,5 miliar pengikut. Namun demikian, Islamophobia masih berlanjut di negara-negara barat bahkan di lembaga pendidikan termasuk kampus University of Washington.

Untuk membantu menghilangkan stereotip dan menyebarkan pengetahuan tentang agama, Asosiasi Mahasiswa Muslim Amerika (MSA) telah membentuk beasiswa tahunan sebesar $1.000 untuk dua mahasiswa baru atau mahasiswa transfer. Ini adalah beasiswa pertamakali yang diperkenalkan dan dikembangkan oleh MSA ke tingkat nasional.

 "Masyarakat kita dan negara perlu menyadari bahwa kaum Muslim juga warga Amerika dan kami bekerja keras untuk Amerika yang lebih baik dan lebih progresif," kata Presiden MSA Ahsen Nadeem.

Salah satu persyaratan mendapatkan beasiswa tersebut adalah mengisi sebuah essai bertemakan mengapa mereka "merasa penting untuk mendorong identitas Muslim dalam kalangan Muslim di kampus dan untuk menghilangkan citra buruk terhadap Islam."

Nadeem juga mengatakan bahwa MSA berusaha untuk terbebas dari label dan mengakhiri diskriminasi melalui rapat, di mana para anggota menyebarkan kebenaran tentang Islam.

MSA adalah salah satu unit kegiatan mahasiswa di kampus, komunitas tersebut mengadakan beberapa acara setiap tahun. Pada bulan Februari komunitas tersebut akan menjadi tuan rumah acara Fast-a-thon, dimana siswa diharapkan untuk meningkatkan kesadaran tentang kelaparan dan tunawisma di komunitas mereka. Acara lainnya, seperti Pekan Kesadaran Islam, akan dilangsungkan nanti pada akhir tahun ajaran.

Tariq Yusuf, seorang anggota di MSA memberitahu bahwa MSA adalah salah satu dari sedikit komunitas yang menawarkan beasiswa uang kepada mahasiswa.

Dia mengatakan, "Kami ingin mengadakan acara ini sebagai tradisi. Kami berharap kami dapat terus mengumpulkan uang yang cukup untuk berlangsungnya acara ini untuk tahun yang akan datang. "

Esai lomba berfokus pada dua tujuan MSA yang diharapkan bias untuk dicapai. Tujuan ini termasuk menyediakan komunitas yang aman dan ramah bagi siswa Muslim dan meningkatkan kesadaran Islam di Universitas Washington.

Pemandangan di kampus Universitas Washington
Anggota MSA percaya bahwa dengan mengembangkan sebuah beasiswa yang membahas masalah stereotip Muslim dan tersedia bagi Muslim dan non-Muslim, diharapkan hal tersebut akan bisa mencapai kedua tujuan mereka.

A SCHOLARSHIP TO ERASE ISLAMPHOBIA IN AMERICA


An association of Muslim students in the United States has taken a unique initiative by providing scholarships to students in order to remove prevailing misconceptions about Islam and to spread the real message of Islam which is of love, peace and tolerance.

Islam is the second-most practiced religion across the globe with 1.5 billion followers. Despite that number, Islamophobia still persists in the western countries even at the educational institutes including the campus of University of Washington (UW).

To help dispel stereotypes and spread awareness about the religion, the UW Muslim Students Association (MSA) has established an annual scholarship of $1,000 for two freshmen or transfer students. This is the first-known scholarship developed by an MSA chapter nationwide.

 “Our society and country needs to internalize the reality that Muslims are also Americans and we are working hard for a better and more progressive America,” MSA President, Ahsen Nadeem, said..

The application essay to the scholarship asks applicants that why they “feel it is important to encourage the Muslim identity within Muslims on campus and [to] dispel stereotypes against Islam.”

He also said that the UW MSA seeks to be rid of labels and put an end to discrimination through its meetings, in which the members spread the truth about Islam.

Pope said that the MSA is one of the more active RSOs on campus, holding multiple events each year. In February the organization will be hosting its annual Fast-a-thon, where students fast to raise awareness about hunger and homelessness in their communities. Other events, such as Islam Awareness Week, will happen later in the school year.

Officer Tariq Yusuf informed that the MSA is one of the few RSOs to offer any financial award and is eager to offer financial assistance to students.

He said, “We want to establish this as a tradition. We are hoping we can continue to raise enough money to keep this going for years to come.”

The application essay focuses on the two goals the MSA hopes to achieve. These goals include providing a safe and welcoming community for Muslim students and raising awareness of Islam in the UW and the U-District area.

MSA members believe that by developing a scholarship that addresses the issue of Muslim stereotypes and is available for both Muslims and non-Muslims, they are accomplishing both of their goals.

Wednesday, January 30, 2013

CHOMSKY: AMERICA IS A LEADING TERRORIST COUNTRY

American academic Noam Chomsky says the United States will be recognized as a leading terrorist state if international law is applied.

“I took the official definitions of terrorism, which were very good, I took the definition that is given in US and British law, which is a fine definition but has a flaw; If you apply it, it turns out the United States is one of the leading terrorist states in the world,” Chomsky told Press TV in an interview on Tuesday.

The academic added that he had predicted the ongoing so-called war on terror by the US when Ronald Reagan was president in the 1980s.

“I’ve been writing about terrorism since 1981, since Ronald Reagan came into office and declared that a war on terror would be the centerpiece of the American policy,” Chomsky stated.

He called into question the legality of the US-led invasion of Iraq in 2003, saying, “The US and Britain tried to provide a kind of a thin legal cover for the invasion. The legal cover was, as you know, that Saddam had not ended his programs of weapons of mass destruction.”

US-led forces attacked Iraq in 2003 and toppled Saddam Hussein on the pretext of possessing weapons of mass destruction. But no WMD was ever discovered in Iraq.

At the peak of the US-led military operation in Iraq, there were 170,000 US troops and more than 500 bases in Iraq.

Avram Noam Chomsky was born December 7, 1928, he is an American linguist, philosopher, cognitive scientist, logician,historian, political critic, and activist. He is an Institute Professor and Professor (Emeritus) in the Department of Linguistics & Philosophy at MIT, where he has worked for over 50 years. In addition to his work in linguistics, he has written on war, politics, and mass media, and is the author of over 100 books.