Thursday, May 30, 2013

BERSATUNYA KAUM MUSLIMIN SEBAGAI KUNCI PEMBEBASAN MASJIDIL AQSHA DAN PALESTINA

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ

BERSATUNYA KAUM MUSLIMIN SEBAGAI KUNCI PEMBEBASAN MASJIDIL AQSHA DAN PALESTINA

Oleh: Yakhsyallah Mansur

Firman Allah:
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ ءَايَاتِنَا إِنَّه هُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ .
"Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat." (QS. Al-Isra’: 1)

Ayat ini disamping menginformasikan peristiwa Isra’ dan Mi’raj, sebagai suatu peristiwa yang sangat menakjubkan dalam sejarah kehidupan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam juga menginformasikan bahwa masjidil Aqsha yang ada di Palestina adalah milik sah umat Islam. Menurut Muhammad Said Ramadlan al-Buthy, peristiwa Isra' dan Mi'raj ini kemungkinan yang menggerakkan Shalahuddin al-Ayubi mengerahkan segala usaha dan kekuatan untuk mengusir pasukan Salib yang menguasai Masjidil Aqsha dan bumi Palestina selama hampir satu abad. Usaha ini berhasil dengan terbebasnya Masjdil Aqsha pada tanggal 27 Rajab 583 Hijriyah.

Saat ini masjidil Aqsha berada dalam cengkraman kaum Zionis. Mereka telah melakukan berbagai macam tindakan yang menodai masjidil Aqsha dengan tujuan utama meruntuhkan masjid tersebut dan menghilangkan dari muka bumi. Karena secara geopolitik tanah Palestina berada di suatu tempat yang bernama Heart Island, barangsiapa menguasai daerah ini maka akan menguasai dunia.
Dalam rangka menguasai tanah Palestina, kaum Zionis telah melakukan berbagai macam cara baik secara halus maupun terang-terangan. Seperti menyebarkan kebohongan bahwa di bawah masjidil Aqsha terdapat suatu bangunan yang disebut dengan Haikal Sulaiman sampai dengan mengusir penduduk asli Palestina dari tanah kelahirannya. Dan sekarang mereka bertebaran di muka bumi sebagai bangsa yang seakan-akan tidak memiliki tanah air.

Selama ayat ini masih dibaca oleh umat Islam, ayat ini mengingatkan bahwa Masjdil Aqsha dan bumi Palestina tidak boleh hilang dari hati umat Islam dan tidak layak diabaikan meskipun kesibukan dan aktifitas mereka sangat padat karena siapa yang mengabaikan Masjidil Aqsha berarti mengabaikan Masjidil Haram. Sebagaimana yang dikatakan oleh Yusuf Qardlawi:
مَنْ فَرَطَ بِا الْأَقْصَى يُوشِكُ اَنْ يُفَرِّطَ بِا الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ

Di bawah ini akan dijelaskan sekilas tentang gerakan Zionis dan kedudukan masjidil Aqsha dalam syariat Islam serta upaya membebaskannya dari cengkraman Zionis tersebut.

Sekilas Gerakan Zionis Yahudi
Dalam pandangan Yahudi, istilah Zionis dinisbatkan pada sebuah bukit yang bernama Zion di Yerusalem. Istilah Zion di dalam al-Kitab disebut dengan Sion. Mazmur 9: 12, menyebutkan, "Bermazmurlah bagi Tuhan yang bersemayam di Sion." Sedang Mazmur 137: 1 menyebutkan, "Di tepi sungai-sungai Babil di sanalah kita duduk sambil menangis apabila kita mengingat Sion."
Menurut orang Yahudi, setelah King David menaklukkan Yerusalem dan menjadikannya sebagai ibukota kerajaannya, sejak itu seluruh upacara korban disentralkan di Yerusalem. Mount Zion – nama salah satu bukit di Yerusalem – kemudian identik dengan nama kota itu dan juga seluruh wilayah yang disebut Yahudi sebagai wilayah Israil. Bagi orang Yahudi, istilah Zion memang mengandung arti religius dan memiliki akar sejarah yang panjang. Oleh karena itu para tokoh gerakan ini menggunakan istilah Zionisme untuk menarik dukungan orang Yahudi .
Sesuai dengan namanya, gerakan ini bertujuan untuk mendirikan sebuah negara Yahudi di Zion (Yerusalem). Dalam sejarah modern, gerakan Zionis muncul setelah terjadinya pembantaian sekelompok Yahudi Rusia pada tahun 1881. Peristiwa ini disebut pogrom dan dijadikan alasan oleh sebagian orang Yahudi akan perlunya mendirikan koloni Yahudi di Palestina. Tahun 1882, kelompok pemuda Yahudi yang menyebut dirinya HOVEVE – ZION (Pecinta Zion) membentuk suatu gerakan yang membantu imigrasi ke Palestina. Mereka memulai apa yang disebut sebagai Praktek Zionisme.
Zionisme menjadi satu gerakan yang mempunyai dimensi politik, setelah tulisan Theodore Herzl (1860 – 1904) yang berjudul Der Yudanstaat diterbitkan tahun 1896. Pada tahun 1897, dalam Kongres Zionis Sedunia Pertama di Bassel Swiss, Herzl mengemukakan tentang perlunya menciptakan gerakan politik untuk mencapai tujuan kaum Yahudi yaitu berdirinya negara Yahudi di Palestina dalam tempo 50 tahun sejak Kongres Zionis Pertama tersebut.
Sejak itu, gerakan Zionisme mendapat tantangan dari kaum Yahudi sendiri yang berpendapat bahwa (1) hanya Tuhan yang dapat mengatur tempat tinggal penganut Yahudi; (2) Yahudi adalah agama, bukan kelompok bangsa. Albert Einstein (1879 – 1955) adalah ilmuwan yang tidak menyetujui berdirinya negara Yahudi. Walaupun mendapat tantangan penganut Yahudi sendiri dan mayoritas bangsa-bangsa di dunia gerakan Zionisme yang dipelopori Herzl tetap berjalan.
Setelah gagal membujuk Sultan Abdul Hamid II untuk mau menyerahkan tanah Palestina yang di akhir abad ke-19, masih berada di wilayah kesultanan Turki Utsmani, maka dilancarkanlah makar besar-besaran agar Palestina dapat dikuasai. Caranya, antara lain:
1.      Menghancurkan Kesultanan Turki dari dalam dengan menyusupkan agen Zionis yang bernama Musthafa Kamal Pasha dan jatuhnya Kesultanan Turki pada tahun 1924.
2.      Mengirimkan Thomas Edward Lawrence (1888 – 1935), perwira menengah Inggris berdarah Yahudi merayu Dinasti Kerajaan Saudi untuk memberontak (bughat) terhadap kesultanan Turki Utsmani. Lawrence berhasil sehingga diberi gelar di belakang namanya "al-Arabia". Maka berdirilah kerajaan Arab Saudi berkat orang Yahudi ini.

Dengan runtuhnya Kesultanan Turki Utsmani maka tidak ada kekuatan besar yang dapat menghalangi keinginan mereka. Tepat 50 tahun setelah Kongres Pertama mereka, berdirilah negara Yahudi yang bernama Israel pada 14 Mei 1948. Kaum Zionis juga menetapkan wilayah kekuasaan Yahudi mulai dari permukaan laut Mesir sampai wilayah Palestina. Memanjang dari daerah Akka hingga Laut Mati (wilayah Jordania) dan sebelah Selatan Laut Mati hingga Laut Merah.

Keputusan lain yang dihasilkan dalam Kongres Zionis di Bussel adalah apa yang disebut dengan PROTOKOLAT Pemimpin Zionis. Protokolat berarti ketetapan-ketetapan atau hasil-hasil beberapa pertemuan, yang isinya antara lain:
1.      Jalan yang kita tempuh adalah tipu daya.
2.      Tidak ada jeleknya kalau anda menjadi sesorang mata-mata bahwa hal itu adalah merupakan perbuatan terpuji.
3.      Seluruh informasi dan sarana informasi harus berada di bawah kekuasaan kita. Budaya dan pers adalah dua kekuatan penting. Oleh karena itu, kita harus mendominasi pers dunia.
4.      Kita akan tetap mempunyai kekuatan selama kaum Goyim (orang non Yahudi) memperoleh makanan yang jelek dan badan mereka lemah.
5.      Para nabi telah menegaskan bahwa Allah sendiri yang menetapkan kita untuk menguasai dunia. Oleh karena itu, kita harus memiliki kemampuan untuk kepentingan itu.
6.      Kita harus melenyapkan pemikiran tentang Allah dari alam pikiran orang Kristen.
7.      Kita tidak boleh ragu untuk menyuap, menipu atau berkhianat asalkan demi tercapainya tujuan kita.
8.      Kerajaan Yahudi akan menjadi gerbang utama dunia.
9.      Kebutuhan sehari-hari akan makanan pokok, memaksa kaum Goyim untuk diam, tunduk dan pasrah kepada kita.
10.  Perjuangan kita sudah hampir tercapai, tinggal beberapa langkah lagi, maka setelah pengalaman panjang itu, Eropa akan berada di genggaman kita.


Mesjid al-Aqsha dalam Lintas Sejarah

Masjidil Aqsha adalah masjid yang menjadi kiblat pertama umat Islam sebelum mereka menghadap ke masjidil Haram. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah:

قَدْ نَرَى تَقَلُّبَ وَجْهِكَ فِي السَّمَاءِ فَلَنُوَلِّيَنَّكَ قِبْلَةً تَرْضَاهَا فَوَلِّ وَجْهَكَ شَطْرَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ وَحَيْثُ مَا كُنْتُمْ فَوَلُّوا وُجُوهَكُمْ شَطْرَهُ وَإِنَّ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ لَيَعْلَمُونَ أَنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّهِمْ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا يَعْمَلُونَ (144)
 “Sungguh Kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit, maka sungguh Kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. Palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. Dan di mana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. Dan sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.” (QS. Al-Baqarah: 144)

Diriwayatkan oleh para ahli tafsir bahwa setelah umat Islam hijrah di Madinah, selama 16/17 bulan mereka melakukan shalat dengan menghadap kiblat ke Baitul Maqdis. Hal ini membuat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam merasa tidak tenang karena melakukan hal yang sama seperti orang Yahudi. Kemudian beliau minta kepada Allah agar kiblat umat Islam dipindah dari, maka turunlah ayat di atas.

Disebutkan dalam sebuah hadits dari Abu Dzar:
ياَ رَسُو لَ اللهِ اَيُّ مَسْجِدٍ وُضِعَ فِي الْأَرْضِ اَوَّلُ قَالَ المَسْجِدُ الحَرَامُ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ اَيٌّ قَالَ ثُمَّ المَسْجِدُ الْأَقْصَى قَالَ اَبُو مُعَاوِيَةَ يَعْنِى بَيْتُ المَقْدِسِ قَالَ قُلْتُ كَمْ بَيْنَهُمَا قَالَ اَرْبَعُونَ سَنَةً (وراه أحمد)
”Ya Rasulullah, mesjid apakah yang pertama dibangun di muka bumi?” Beliau bersabda, ”Mesjidil Haram.” Abu Dzar berkata, ”Saya bertanya lagi, ”Kemudian apa?” Beliau bersabda,” Kemudian Mesjid al-Aqsha.” Abu Muawiyah berkata, ”Yakni Baitul Maqdis.” Abu Dzar berkata, ”Saya bertanya lagi, ”Berapa lama antara keduanya?” Beliau bersabda, ”Empat puluh tahun.” (HR. Ahmad)
Dalam kurun waktu yang lama, bangunan itu rusak dan runtuh dimakan waktu. Adapun areal tanah sekitar mesjid al-Aqsha juga termasuk ke dalam mesjid tersebut, yang disebut dengan al-Quds al-Syarif (tanah suci yang mulia).

Ibn al-Qayyim al-Jauzi menyebutkan mesjid al-Aqsha dibangun kembali di atas pondasinya oleh Nabi Ya’qub alaihi salam dan direnovasi oleh Nabi Daud alaihi salam.   
Bangunan mesjid al-Aqsha diperbaharui oleh Nabi Sulaiman alaihi salam (tahun 960 SM). Para nabi membangun kembali mesjid al-Aqsha untuk tempat mendirikan shalat, bukan sebagai Haikal (kuil) Sulaiman seperti yang diklaim oleh kaum Zionis.       
Meir bin Douf, pakar arkeolog Israil paling terkemuka saatl ini menyebutkan bahwa di kawasan mesjid al-Aqsha tidak ditemukan sama sekali segala peninggalan yang berhubungan dengan apa yang disebut dengan Haikal Sulaiman. Bahkan yang ada adalah Kuil Raja Romawi Herodos yang telah dihancurkan oleh tentara Romawi sendiri.
Sepeninggal Nabi Sulaiman alaihi salam, akibat pelanggaran-pelanggaran bangsa Yahudi terhadap tuntunan Allah. Mesjid al-Aqsha berkali-kali dikuasai dan dirobohkan oleh musuh-musuh mereka. Sebagaimana yang diisyaratkan oleh Allah dalam firman-Nya:
فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ أُولَاهُمَا بَعَثْنَا عَلَيْكُمْ عِبَادًا لَنَا أُولِي بَأْسٍ شَدِيدٍ فَجَاسُوا خِلَالَ الدِّيَارِ وَكَانَ وَعْدًا مَفْعُولًا .
”Maka ketika datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama dari kedua (kejahatan) itu, Kami datangkan kepadamu (Bani Israil) hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang besar lalu mereka merajalela di kampung-kampung dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.” (QS. Al-Isra’: 5)

Pada masa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam, mesjid al-Aqsha dikuasi oleh kekaisaran Romawi Timur yang beragama Kristen dan dapat dibebaskan pada masa Khalifah Umar bin Khaththab, pada tahun 16H/636M, Sofronius, kepala rahib saat itu sangat berterima kasih atas kedatangan Islam yang dipandang membebaskan mereka dari penindasan kekaisaran Romawi. Oleh sebab itu, penyerahan kunci kota Yerusalem, tempat dimana mesjid al-Aqsha berada dilakukan langsung olehnya kepada Umara bin Khaththab yagn sengaja datang untuk menerimanya.

Setelah mengadakan pembersihan tempat-tempat yang pernah dijunjungi oleh Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam dalam perjalanan Isra’ dan Mi’raj, Umar kemudian menetapkan peraturan yang harus diberlakukan di sana. Peraturan tersebut disebut dengan al-Ahdu Umari yang bunyinya sebagai berikut:
بسم الله الرحمن الرحيم
هَذَا مَا اَعْطَى عَبْدُ اللهِ اَمِيرُ الْمُؤْمِنِينَ عُمَرَ اَهْلَ اِيلِيَا مِنَ الْأَمَانِ اَعْطَاهُم أَمَانًا لِاَنْفُسِهِم وَ اَمْوَالِهِم وَلِكَنَائِسِهِم وَصَلِيْبِهِم سَقِيمَهَا وَبَرِيهَا وَسَائِرَملَِّتِهَا وَلاَ يُضَارُّ اَحَدٌ مِنْهُم لاَ يَسَعَنَّ بِإِيلِيَا اَحَدٌ مِنَ الْيَهُودِى وَ عَلَى اَهْلِ اِيلِيَا اَنْ يُعْطُوا الْجِزْيَةَ كَمَا يُعْطِى اَهْلُ الْمَدَائِنِ وَعَلَيْهِم اَنْ يُخْرِجُوا مِنْهَا الرُّوْمَ وَاللُّصُوصَ فَمْنْ خَرَجَ مِنْهُم أَمِنَ عَلَى نَفْسِهِ وَمَالِهِ حَتَّى يَبْلُغُوا مَا مِنْهُم وَمَن اَقَامَ مِنْهُم فَهُوَ آمِنٌ وَعَلَيْهِ مِثْلُ مَا عَلَى اَهْلِ إِيلِياَ مِنَ الْجِزْيَةِ وَمَن اَحَبَّ مِنْ اَهْلِ اِيلِيَا اَنْ يَسِيرَ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ مَعَ الرُّومِ وَيُخَلِّى بِيعَتَهُم وَصَلِيبَهُم فَإِنَّهُم أَمِنُونَ عَلَى اَنْفُسِهِم وَ عَلَى بِيَعْتِهِم وَ عَلَى صَلِيبِهِم حَتىَّ يَبْلُغُوا مَأْمَنَهُم وَمَن كَانَ فِيهَا مِنْ اَهْلِ الْأَرْضِ فَمَن شَاءَ مِنْهُم قَعَدَ وَعَلَيْهِ مِثْلُ مَا عَلَى اَهْلِ اِيلِيَا مِنَ الْجِزْيَةِ وَمَنْ شَاءَ سَارَ مَعَ الرُّومِ وَمَنْ شَاءَ رَجَعَ إِلىَ اَرْضِهِ وَاِنَّهُ لاَ يُؤْخَدْ مِنْهُم شَيْئٌ حَتىَّ يُحْصَدَ حَصَادُهُمْ وَ عَلَى مَا فِي هَذَا عَهْدُ اللهِ تَعَالَى وَذِمَّتُهُ وَذِمَّةُ رَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَذِمَّةٌ خُلَفَاءَ الرَّاشِدِين وَذِمَّةِ الْمُؤْمِنِينَ اِذَا اُعْطوُا الَّذِي عَلَيهِمْ مِنَ الْجِزْيَةِ.
شَهَدَ عَلَى ذَلِكَ خَالِدُ بْنُ الْوَالِدِ - عَمْرُو بْنُ الْعَاص – عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ عَوْفٍ – مُعَاوِيَةُ بْنُ اَبِى سُفْيَانَ.

Bismillahirrahmanirrahim
“Inilah jaminan keamanan yang diberikan oleh hamba Allah, Umar Amir al Mu’minin, terhadap penduduk Iliya:
Aku memberikan jaminan keamanan bagi jiwa raga dan harta benda mereka, untuk gereja-gereja serta tiang-tiang salib merek, yang sakit maupun yang sehat, serta seluruh tradisi kepercayaan mereka.Gereja-gereja mereka tidak akan diduduki atau dihancurkan, tidak akan dikurangi ataupun diubah. Tidak akan dirampas salib maupun harta benda mereka, walaupun sedikit. Mareka tidak akan dimusuhi kerena keyakinan agamanya, dan tidak akan diganggu atau diancam seorangpun dari mereka. Dan tidak diizinkan bangsa Yahudi untuk tinggal bersama mereka di Iliya, meskipun hanya satu orang. Terhadap penduduk Iliya, mereka harus membayar jizyah (pajak), sebagaimana pernah diberikan oleh penduduk kota Madain. Mereka juga harus mengusir bangsa Romawi dan para pencuri. Siapa diantara mereka yang keluar, dijamin aman nyawa serta hartanya, hingga mencapai tempat aman mereka. Dan siapa yang tetap tinggal diantara mereka, diapun dijamin aman. Hanya saja ia dikenakan jizyah (pajak), sebagaimana yang diwajibkan terhadap penduduk Iliya. Siapapun, diantara penduduk Iliya, bebas untuk pergi dengan jiwa dan hartanya ke pihak bangsa Romawi. Dia boleh mengosongkan rumah peribadatannya, dan membawa salib mereka. Mereka dijamin aman, atas jiwa raga, tempat ibadah, dan salib-salib mereka, sampai mereka tiba di tempat amannya. Siapa yang sudah ada di dalam negeri, dari penduduk asli, sebelum terbunuhnya fulan: yang mau boleh tinggal, dan harus membayar jizyah (pajak) seperti yang dikenakan atas penduduk Iliya. Dan kalau mau, dia boleh pergi bersama Romawi. Atau boleh juga dia kembali kepada keluarganya. Pada keadaan ini, tidak dipungut apapun dari mereka, sampai bisa dipanen hasil jerih payah mereka. Apa yang tertuang dalam surat perjanjian ini dilindungi oleh janji Allah, jaminan Rasul-Nya, jaminan para khalifah, serta jaminan kaum mu’minin, jika mereka memberikan jizyah (pajak) yang dikenakan atas mereka. Perjanjian ini disaksikan oleh Khalid bin Walid, ‘Amru bin ‘Ash, Abdurrahman bin ‘Auf, dan Mu’awiyah bin Abi Sufyan.













Dore Gold menulis, di masa kekhalifahan Umar, toleransi agama dikembangkan. Berbagai larangan di zaman Romawi, misalnya memasang salib di tempat terbuka dan prosesi keagamaan pada hari Minggu Palwa dicabut. Umat Kristiani diperbolehkan kembali memasang salib di tempat terbuka dan melaksanakan prosesi keagamaan seperti pada hari Minggu Palwa, yang menikmati kebebasan beragama bukan hanya umat Kristiani melainkan juga orang-orang Yahudi. Mereka diperbolehkan untuk membangun sinagog di berbagai tempat bahkan di bawah Temple Mount. Kondisi penuh toleransi berlangsung hampir 500 tahun.

Ketika umat Islam berpecah-belah, mesjid al-Aqsha kembali dikuasai oleh orang-orang Kristen melalui Perang Salib I pada tahun 492H/1099M. Pada saat Pasukan Salib memasuki Yerusalem, sambil menyanyikan himne-himne pujian, mereka membongkar kedai-kedai, menerobos pintu rumah dengan paksa, membongkar dan membantai setiap orang yang mereka temui, laki-laki, perempuan, orang tua, anak-anak.

Kaum muslimin menuju mesjid al-Aqsha dengan harapan melakukan pertahanan terakhir. Namun pasukan Salib kemudian menyerang mesjid kedua paling suci di dunia Islam itu dan membantai seluruh kaum muslimin yang ada di dalamnya sehingga mesjid al-Aqsha menjadi danau darah kaum muslimin. Salah satu laporan yang dikirimkan kepada Paus Urbanus II, pemrakarsa Perang Salib berbunyi, ”Kalau paduka ingin mendengar bagaimana kami memperlakukan musuh-musuh kita di Yerusalem, ketahuilah di portico dan haikal Sulaiman, kami berkuda di atas darah najis kaum Sarasen (muslim) yang tingginya mencapai sampai ke atas lutut kuda-kuda kami.”

Menurut Dr. Abdullah Nasih Ulwan, faktor utama yang menyebabkan keberhasilan kaum Salib merebut mesjid al-Aqsha dan sekitarnya dari tangan kaum muslimin adalah kondisi kaum muslimin sendiri yang diselimuti perpecahan dan saling menghantam, bertikai dan jiwa-jiwa permusuhan. Ketika pasukan Salib sedang sibuk mengerahkan seluruh tenaganya merebut mesjid al-Aqsha, Muhammad bin Maliksyah as-Saljuki justru sibuk memerangi saudaranya sendiri atas perintah sang ayah yang bernama Bur Kiyarug. Sementara itu raja-raja Syam saling membunuh antara satu dan lainnya.

Sejak tahun 1099 – 1187M, Yerusalem berada di bawah kekuasaan Kristen. Lalu muncul Sultan Shalahuddin Yusuf al-Ayyubi yang dapat merebut kembali mesjid al-Aqsha. Ia mengulang kembali sejarah Khalifah Umar bin Khaththab dalam membebaskan mesjid al-Aqsha. Ia juga memperlakukan penduduk Yerusalem yang beragama Kristen berbeda dengan perlakukan Pasukan Salib terhadap umat Islam ketika mereka menaklukkan Yerusalem. Shalahuddin memberi tenggang waktu selama 40 hari bagi Pasukan Salib yang berasal dari Eropa untuk meninggalkan Yerusalem bersama keluarganya dengan membayar tebusan. Laki-laki 10 dinar, wanita 5 dinar dan anak-anak 2 dinar (1 dinar pada tahun ini (2011) kurang lebih senilai dengan Rp 1,9 juta), sedang yang tidak mampu, dijadikan sebagai tawanan. Pada Jumat pertama, paska pembebasan mesjid al-Aqsha oleh Shalahuddin yang bertepatan dengan tanggal 27 Rajab 583H/ 12 Oktober 1187M, Muhyiddin bin Az-Zaki, Qadhi Damaskus yang bertindak sebagai khatib saat itu, mengingatkan kesucian al-Aqsha dengan mengatakan, ”Rumah suci ini adalah tempat ayah kalian Ibrahim, tempat Nabi Muhammad Shallallahu ’Alaihi Wasallam diangkat ke langit, kiblat kalian saat shalat pada permulaan Islam. Ia adalah tempat kediaman para nabi, idaman para wali, makam para rasul, tempat turun wahyu dan tempat turun perintah dan larangan. Disini tempat manusia berkumpul di hari kiamat dan tempat yang akan menjadi tempat berlangsungnya kebangkitan.”

Dalam periode yang sangat lama kurang lebih satu milenium, Yerusalem berada dalam wilayah Islam sampai pada akhir Perang Dunia I di awal abad 20. Ketika umat Islam kembali berpecah-belah setelah hancurnya kesultanan Turki Utsmani, Yerusalem dapat dikuasai oleh Inggris, yang kemudian menyerahkannya kepada kaum Zionis untuk dijadikan sebagai negara Yahudi.


Kesatuan Umat sebagai Kunci Membebaskan al-Aqsha

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ ءَايَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ .
"Dan berpeganglah kamu sekalian dengan tali Allah seraya berjama'ah dan janganlah berfirqah-firqah. Ingatlah akan ni`mat Allah kepadamu ketika kamu bermusuh-musuhan maka Ia menjinakkan antara hatimu lalu menjadilah kamu karena ni`mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka lalu Ia menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk." (QS. Ali 'Imran: 103)

Menurut Ibn Ishak dan Abu Syaikh dari Zaid bin Aslam, asbab nuzul ayat di atas adalah sebagai berikut:
مر شاس بن قيس اليهودى وكان شيخا عظيم الكفر, شديد الضغن للمسلمين على ملأ من أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم من الأوس والخزرج في مجلس جمعهم يتحدثون فيه فساءه ما هم عليه من الاتفاق والألفة وصلاح ذات البين على الإسلام بعد الذي كان بينهم من العداوة
في الجاهلية فأراد هذا الفاجر تجديد الفتنة بينهم فقال: والله مالنا معهم إذا اجتمع ملؤهم بها من قرار فأمر فتى شابا معه من اليهود فقال له: اعمد إليهم و اجلس معهم ثم ذكر هم يوم بعاثو و أنشدهم بعض ما كانوا يتقا ولون فيه من الأشعار, وكان يوم بعاث اقتتلت فيه  فيه الأوس والخزرج وكان الظفر فيه للأوس, ففعل الشاب ما أمره به شاس, فلم يزل بهم حتى حميت نفوس القوم, وغضب بعضهم على بعض, وتثاوروا, فقال كا فريق منهم: السلاح السلاح, وتواعدوا على الحرة, فخرجوا إليها و أخذوا السلاح معهم, وانضمت الأوس بعضها إلى بعض, والخزرج كذلك, واصطفوا للقتال , فبلغ ذلك رسول الله صلى الله عليه وسلم  فخرج  إليهم فيمن  معه من المهاجرين حتى جاءهم ووقف بين صفيهم فقال يَا مَعْشَرَ المُسْلِمِينَ. اَللهَ. اَللهَ اَبِدَعْوَى الْجَاهِلِيَّةَ وَ أَنَا بَيْنَ اَظْهُرِكُمْ بَعْدَ إِذْ هَدَاكُمُ اللهُ لِلْأِسْلاَمِ وَ اَكْرَمَكُمْ بِهِ وَ قَطَعَ عَنْكُمْ أَمَرَالْجَاهِلِيَّةِ وَ اسْتَنْقَذَكُمْ بِهِ مِنَ الْكُفْرِ وَ اَلَّفَ بِهِ بَيْنَكُمْ تَرْجِعُوْنَ إِلىَ مَا كُنْتُمْ عَلَيْهِ كَفَارًا.

 فعرف القوم حينئد أنها نزغة من الشيطان, وكيد من عدوهم لهم. فندم الجميع على ما كان منه, وألقوا السلاح من أيدهم, يبرح رسول الله صلى الله عليه وسلم مقامه حتى نزلت عليه هذه الآيات فقرأها رسول الله صلى الله عليه وسلم عليهم , ورفع بها صوته, فلما سمعوا صوته استمعوا له, وأنصتوا لقراءته, فلما فرغ من القراءة ألقى كل فريق سلاحه وعانتى بعضهم  بعضا وجعلوا يبكون, ثم انصرفوا مع رسول الله صلى الله عليه وسلم سامعين, قال جابر بن عبد الله:  وَاللهُ مَا رَاَيْتُ يَوْمًا اَقْبَحَ اَوَّلاً وَ اَطْيَابُ آخِرًا مِنْ ذَلِكَ الْيَوْمِ

Ketika menafsirkan kalimat ولا تفرقوا (dan janganlah kalian berfirqah-firqah), Ibn Katsir berkata:
أَمَرَهُمْ بِالْجَمَاعَةِ وَنَهَاهُمْ عَنِ التَّفَرَّقَةِ.
”Allah memerintahkan mereka untuk berjama’ah dan melarang mereka berfirqah-firqah.”
Kemudian beliau menukilkan hadits:
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ إِنَّ اللهَ يَرْضَى لَكُمْ ثَلاَثًا وَيَسْخَطُ لَكُمْ ثَلاَثاً يَرْضَى لَكُمْ اَنْ تَعْبُدُوهُ وَلاَ تُشْرِكُوا بِهِ شَيْئًا وَ اَنْ تَعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلاَ تَفَرَّقُوا وَ اَنْ تُنَاصِحُوا مَنْ وَلاَهُ اللهُ أَمْرَكُمْ وَ يَسْخَطُ لَكُم ثَلاَثًا قِيلَ وَقَالَ وَكَثْرَةَ السُّؤَالِ وَإِضَاعَةَ الْمَالِ (رواه مسلم)
”Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wasallam bersabda, ”Sesungguhnya Allah ridha kepada kamu tiga perkara dan benci kepada kamu tiga perkara. Ridha kepada kamu apabila kamu menyembah-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu dan kamu berpegang teguh kepada tali Allah seraya berjama’ah dengan tidak berfirqah-firqah dan kamu menasehati orang yang diserahi oleh Allah untuk mengatur urusanmu. Dia benci kepada kamu tiga perkara yaitu berbicara tanpa dasar, dan banyak bertanya serta menghambur-hamburkan harta.” (HR. Muslim)

Yang dimaksud berjama’ah adalah bersatunya umat Islam di bawah seorang pimpinan (Imaam atau Khalifah).

وقد رسم رسولو الله صلى الله عليه وسلم المنهج الحق يجب ان يكون عليه المسلم عند تفرق الكلمة وتثتب الرأي واراد ان يصلح ذات بينه فاوجب على المسلم ان يلزم جماعة المسلمين وإمامهم وان يدع الفرق كلها إلا التي فيما الإمام. وذلك فيما حدت به حذيفة بن اليمان رضي الله عنهما صاحب سر رسول الله صلى الله عليه وسلم . فقد روي البخاري ومسلم من طريق أبي إدريس الخولانى قال سمعت حديفة بن اليمان يقول كَانَ النَّاسُ يَسْأَلُونَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْخَيْرِ وَكُنْتُ أَسْأَلُهُ عَنِ الشَّرِّ مَخَافَةَ أَنْ يُدْرِكَنِي فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّا كُنَّا فِي جَاهِلِيَّةٍ وَشَرٍّ فَجَاءَنَا اللَّهُ بِهَذَا الْخَيْرِ فَهَلْ بَعْدَ هَذَا الْخَيْرِ شَرٌّ قَالَ نَعَمْ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الشَّرِّ مِنْ خَيْرٍ قَالَ نَعَمْ وَفِيهِ دَخَنٌ قُلْتُ وَمَا دَخَنُهُ قَالَ قَوْمٌ يَهْدُونَ بِغَيْرِ هَدْيِي تَعْرِفُ مِنْهُمْ وَتُنْكِرُ فَقُلْتُ هَلْ بَعْدَ ذَلِكَ الْخَيْرِ مِنْ شَرٍّ قَالَ نَعَمْ دُعَاةٌ عَلَى أَبْوَابِ جَهَنَّمَ مَنْ أَجَابَهُمْ إِلَيْهَا قَذَفُوهُ فِيهَا فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ صِفْهُمْ لَنَا قَالَ نَعَمْ قَوْمٌ مِنْ جِلْدَتِنَا وَيَتَكَلَّمُونَ بِأَلْسِنَتِنَا قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَمَا تَرَى إِنْ أَدْرَكَنِي ذَلِكَ قَالَ تَلْزَمُ جَمَاعَةَ الْمُسْلِمِينَ وَإِمَامَهُمْ فَقُلْتُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ لَهُمْ جَمَاعَةٌ وَلَا إِمَامٌ قَالَ فَاعْتَزِلْ تِلْكَ الْفِرَقَ كُلَّهَا وَلَوْ أَنْ تَعَضَّ عَلَى أَصْلِ شَجَرَةٍ حَتَّى يُدْرِكَكَ الْمَوْتُ وَأَنْتَ عَلَى ذَلِكَ
وفي لفظ مسلم من طريق ابى سلام قال حديفة اليمان قلت يا رسول الله انا كنا بشر فجاء الله بخير فتخن فيه فهل من وراء هذ الخير من شر؟ قال نعم .قلت هل وراء ذلك الشر خير؟ قال نعم قلت كيف؟ قال يكون بعدي أئمة لا يهتدون يهداى ولا يستنون بسنتي وسيقوم فيهم رجال قلوبهم قلوب الشياطين في جثمان أنس. قال قلت كيف أصنع يا رسول الله إن ادركت ذلك؟ تسمع وتطيع للأمير وإن ضرب طهرك وأخد مالك فا سمع و اطع.
قال الطباري: والصواب ان المراد من الخير لزوم الجماعة الذين في طاعة من اجتمعوا على نأميره فمن نكث بيعته خرج عن الجماعة. قال: وفي الحديث أنه متى لم يكن للناس إمام فافترق الناس اخزابا فلا يتبع احدا في الفرقة ويعتزل الجميع إن استطاع ذلك خشية من الوئوع في الشر.
وبهذا يتضع بمالا مجال للشك أن الفرقة الناجية هي من كانت مع جماعة المسلمين و إمامهم. فالزم أيها المسلمون المنهج النبوة والخلافة الرشيدة لتعل مشكلات المسلمين ويحرر الاقصى و فلسطين حالية
و الله اعلم بالصواب.

Hanya dengan berjama’ah, umat Islam dapat merebut kembali mesjid al-Aqsha dari musuh-musuhnya sebagaimana yang telah terbukti pada masa Umar bin Khaththab dan Sultan Shalahuddin al-Ayyubi. Dr. Abdullah Nasih Ulwan menjelaskan bahwa sebelum membebaskan mesjid al-Aqsha, Sultan Shalahuddin al-Ayyubi bekerja keras menyatukan umat Islam di Syam, Yaman, Mesir, Burqah, dan sebagainya. Setelah mereka bersatu di bawah kepemimpinannya maka mesjid al-Aqsha dapat dibebaskan setelah kurang lebih 90 tahun di bawah kekuasaan  kaum Salib.

Hal ini juga dirasakan umat Islam ketika mereka bersatu di bawah Dinasti Turki Utsmani. Dalam sejarahnya yang panjang selama hampir 700 tahun (1299 – 1922), umat Islam dapat memimpin dunia, bahkan bangsa Yahudi musuh Islam paling keras, mereka dilindungi oleh umat Islam. Selama lebih dari 500 tahun, Dinasti Utsmani menjadi surga bagi pengungsian Yahudi yang diusir dan dibantai oleh kaum Kristen Eropa. Namun keharmonisan itu berakhir menyusul kemunculan gerakan Zionis Yahudi pada abad ke-19 yang memaksakan kehendak untuk mendirikan negara Yahudi di bumi Palestina.

Melalui lobi Yahudi, gerakan Zionis di bawah pimpinan Theodore Herzl dengan berbagai cara, mereka meminta kepada Sultan Hamid II untuk menyetujui pendirian negara bagi Yahudi di Palestina. Namun Sultan menjawab dengan tegas, ”Saya tidak dapat menjual, walaupun sejengkal tanah ini (Palestina), yang bukan milikku, tetapi milik rakyatku. Rakyatku telah memenangkan kesultanan ini dengan bertempur untuknya, dengan mengucurkan darah mereka dan menyuburkan tanah ini dengan darah mereka. Kami akan melindungi tanah ini dengan darah kami sebelum kami mengizinkannya dirampas dari kami. Turki Utsmani bukanlah milikku tetapi untuk rakyat Turki. Saya tidak dapat memberikan bagian manapun dari tanah ini. Silakan Yahudi menabung milyaran (uang) mereka. Jika kekhalifahanku sudah terbagi-bagi, mereka mungkin akan mendapatkan Palestina tanpa imbalan.”

Pada kesempatan lain, Sultan Abdul Hamid II berkata, ”Mengapa kami harus melepaskan al-Quds?... Sesungguhnya al-Quds adalah bumi milik kami selamanya. Dan ia akan tetap demikian, yaitu sebagai bagian dari kota-kota suci kami yang ada di bumi Islam. Karena itu, al-Quds harus tetap bersama kami.”

Namun harapan Sultan Abdul Hamid II untuk tetap mempertahankan al-Quds itu pupus bersamaan dengan diruntuhkannya Dinasti Turki Utsmani oleh konspirasi Zionis Yahudi melalui tangan Musthafa Kamal Pasha. Hertzel mengatakan pada Konferensi Zionis Internasional I di Basel (1897): "Pembebasan Palestina oleh bangsa Yahudi sangat tergantung dengan hancurnya Khilafah Utsmaniyah." Dengan runtuhnya Dinasti Turki Utsmani, tidak ada kekuatan yang dapat mempersatukan dan melindungi umat Islam secara menyeluruh. Akhirnya satu per satu wilayah Islam dikuasai oleh musuh-musuhnya termasuk al-Quds dapat dikuasai oleh Zionis Israil.

Inilah bukti bahwa hanya dengan berjama’ah (bersatu di bawah seorang Imam/ Khalifah) maka Islam dapat mengembalikan mesjid al-Aqsha dan mempertahankannya dari tangan-tangan orang yang tidak berhak yang ingin menguasainya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Maraji’
1.      Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an Al-Adzim, Toha Putra, Semarang, t.t.
2.      Hamka, Tafsir Al-Azhar, Pustaka Islam, Cet. 2, 1981
3.      Ibnu Hajar Al-Asqalani, Fath Al-Bari, Darul Fikr, t.t.
4.      An-Nawawi, Syarh Muslim, Dahlan Bandung, t.t.
5.      Al-Mawardi, Al-Ahkam Al-Sulthaniyah, Al-Nas’ani al-Halabi, 1326 H.
6.      Muhammad Al-Khudri, Itmam Al-Wafa’, Maktabah Tsaqafiyah, Beirut, 1402H.
7.      Yusuf Qaradlawi, Al-Ummah Al-Islamiyah Haqiqah Al Wahm, Maktabah Wahbah
8.      ______________, Distorsi Sejarah Islam, terj. Arif Munandar Riswanto, Pustaka Al-Kautsar, Jakarta, Cet. Ke-1, 2005
9.      Abdul Fatah Qadli, Ashabun Nuzul, Darun Nadwah, Beirut, 1408 H.
10.  Wali Al-Fattaah, Khilafah ‘ala Minhajin Nubuwwah, Amanah, Bogor, 1415 H.
11.  Husein bin Muhammad bin Ali Jabar, Menuju Jama’atul Muslimin, Terj. Aunur Rafiq, Rabbani Pers, Jakarta Cet ke-3, 1993


0 komentar:

Post a Comment